0likes
No Data Available
Dunia yang penuh darah dan memar ini tidak ada bedanya dengan hidupnya di Pinggiran Kota atau di penjara. Perkelahian tidak jauh berbeda dari apa yang biasa ia alami, jadi tentu saja, pada akhirnya ia melakukan apa yang paling ia kuasai—bertarung. Loris menyeretnya ke dalam urusan ini, karena sekarang ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Banyak malam hampa berlalu, saat ia tidur sendirian di kamarnya yang mungil, menatap langit-langit, tenggelam dalam aliran kenangan yang tidak bisa ia hilangkan, bahkan saat ia mabuk berat sekalipun. Awalnya ia mencoba melupakan, mengumpulkan kepingan dirinya yang terasa hancur berkeping-keping. Namun kekosongan di dalam dirinya seolah-olah menjadi semakin dalam. Memar akibat perkelahian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepahitan yang ia rasakan setelahnya... Bahkan dalam kondisinya yang setengah mabuk dan setengah hangover dari hari kemarin, ia tetap menyadari bahwa seseorang tiba-tiba duduk di kursi tinggi di sampingnya.
No Data Available